Jejak PM Noor dalam Pembangunan Kalimantan

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Jejak PM Noor dalam Pembangunan Kalimantan

Berita 24 Indonesia
Selasa, 14 November 2017
Jejak PM Noor dalam Pembangunan Kalimantan

Selasa 14 November 2017, 08:10 WIB Jejak PM Noor dalam Pembangunan Kalimantan Sudrajat - detikNews Jejak PM Noor dalam Pembangunan KalimantanFoto: Fuad Hasyim Jakarta -

Beberapa pekan sebelum Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Bung Hatta mengajak Ir Pangeran Mohammad Noor (PM Noor), tokoh masyarakat Kalimantan di Jakarta, mengunjungi Banjarmasin atas undangan Pemerintah Pendudukan Jepang. Dalam perjalanan dari lapangan terbang, selepas mata memandang terhampar padang ilalang.

"Bung kan seorang insinyur, cobalah jadikan padang alang-alang itu menjadi sawah-sawah yang subur," kata Hatta. Sejatinya Noor bukan insinyur pertanian, tapi sipil lulusan ITB, satu tingkat di bawah Sukarno. Toh begitu, kalimat Hatta terus melekat dalam hati dan pikirannya. Sebagai putra Kalimantan, dia bertekad mewujudkan apa yang menjadi obsesi Hatta.

Takdir kemudian membawanya sebagai Gubernur pertama untuk Kalimantan. Sejak proklamasi, jabatan lain ikut melekat pada dirinya: Wakil Menteri Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Tapi revolusi fisik melawan Belanda tak memungkinkan untuk mewujudkan pembangunan Kalimantan.

Lima tahun berselang, tepatnya dalam siding DPR Sementara, 2 Oktober 1950, Noor menyampaikan cita-citanya membangun sejumlah infrastruktur untuk Kalimantan. Khususnya membangun Proyek sungai Barito. Tak mendapatkan respons memadai.

Ketika menjadi Menteri Pekerjaan Umum (1956-1959), sebagian kecil saja dari cita-cita besar itu bisa ia wujudkan. Dia mulai menggali terusan untuk perluasan daerah sawah pasangsurut dan pembangunan dam Riam Kanan. Usai Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, Noor kembali memaparkan iden ya tentan Proyek Sungai Barito.

Gagasan tentang proyek mercusuar itu rupanya dilandasi pengalamannya semasa kanak-kanak. Setiap empat tahun sekali, area persawahan di sepanjang Sungai Barito biasa terendam banjir setinggi hingga 4 meter di kala musim penghujan, dan kekekeringan di masa musim kemarau.

"Saya merasakan penderitaan para petani itu. Saya selalu bertanya-tanya bagaimana agar dapat menghindarkan diri dari tantangan ba'ah dan kekeringan itu," kata Noor dalam buku Ir PM Noor, Teruskan Gawi Kita Belum Tuntung, karya Asikin Zuhri.

Bung Hatta (tengah) dan PM Noor (kanan)Bung Hatta (tengah) dan PM Noor (kanan) Foto: Dok. Keluarga

Sungai Barito membentang sepanjang 1000 kilometer dari Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah. Tapi karena terjadi sedimentasi , kapal-kapal besar tak dapat dengan leluasa melintasinya. Padahal sungai itu menjadi sarana transportasi air paling strategis. Sungai juga menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian. Sehingga langkah pertama Noor adalah bagaimana mengeruk lumpur dari dasar sungai Barito.

"Jika kapal-kapal dapat melaju dengan leluasa di Sungai Barito, niscaya roda perekonomian di Kalimantan Selatan dan Tengah pun akan bergerak baik," papar Noor.

Mengingatnya besarnya dana yang diperlukan, atas izin DPRD dan Gubernur Kalimantan Selatan, pada 1968 Noor memimpin delegasi ke Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat untuk 'menjual' proyek tersebut. Nippon Koei Co dari Jepang salah satu yang menunjukkan minat serius karena pernah terlibat dalam menangani proyek serupa, seperti Proyek Sungai Meong di Vietnam.

Sementara pengerukan Proyek Sungai Barito terus diupayakan hingga pertengahan 1970, Noor juga menggagas dan merampungkan pembangunan PLTA (Hydro Electri c Power Station) Riam Kanan.

Bendungan PLTA yang dibangun dengan membendung 8 sungai itu diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 30 April 1973. Pada 19 Januari 1980, atas persetujuan Presiden Soeharto, PLTA Riam Kanan diganti namanya menjadi PLTA Ir Pangeran Muhammad Noor, sebagai wujud penghargaan dan penghormatan terhadap jasa-jasanya memajukan Kalimantan Selatan.

Selain itu, Noor juga memprakarsai Proyek Pasang-Surut untuk meningkatkan usaha transmigrasi (Trans- Sumatra Waterway dan Kalimantan Coastal Canal) dan Proyek Perluasan Persawahan Pasang-Surut.

Gagasan PM Noor tersebut tidak hanya ditujukan untuk membangun Kalimantan, keberadaan topografi lahan di Sumatera Selatan yang hampir sama dengan Kalimantan juga menjadi perhatiannya. Ia menggagas sistem terusan (kanal) di Sumatera Selatan yang menghubungkan Palembang dan Asahan yang panjangnya sekitar 1.000 km melintasi sungai-sungai besar.

Laksamana (Purn) Moh. Nazir yang pe rnah bersama-sama mendirikan divisi IV ALRI di Kalimantan dan kemudian menjadi Menteri Pelayaran menilai ide PM Noor itu sangat brilian. "Kalau rencana gigantis [raksasa] ini terlaksana, Laut Jawa akan jadi 'Mare Nostrum' [Danau Kita], dikelilingi daerah-daerah Industri dan Perdagangan yang sangat maju di daerah Khatulistiwa. Indonesia akan jadi negara Maritim terkemuka di dunia," paparnya seperti dikutip sejarawan IKIP Bandung, Prof Helius Sjamsuddin.


(jat/jat)Sumber: Google News | Berita 24 Kalteng