Kembali ke Alam, Berwisata ke Danau Masoraian

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Kembali ke Alam, Berwisata ke Danau Masoraian

Berita 24 Indonesia
Selasa, 03 April 2018
Kembali ke Alam, Berwisata ke Danau Masoraian

Susur danau dengan sampan, sambil menikmati suasana alam, dapat dirasakan di Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.KOMPAS.com/BUDI BASKORO Susur danau dengan sampan, sambil menikmati suasana alam, dapat dirasakan di Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Airnya tenang dan relatif belum terkontaminasi limbah. Warnanya pekat mengandung endapan humus. Ia menjadi habitat ikan-ikan air tawar endemik khas Kalimantan, seperti seluang, haruan, baung, kapar, lais, dan toman.

Itulah Danau Masoraian, yang membentang sepanjang 4,5 kilometer di antara kelokan besar sisi timur Sungai Lamandau, Namanya terlalu kecil mungkin untuk dimasukkan dalam bentangan peta nasional Indonesia.

Baca juga : Sensasi Berenang di Sungai Hitam Pedalaman Kalimantan

Meski begitu, keaslian alamnya yang masih terjaga, dan ketenangan suasananya, sangat pas bagi penyuka wisata khusus di alam bebas yang otentik.

Di sekitarnya hutan lahan basah terhampar. Sejumlah pepohonan endemik Kalimantan masih bisa dijumpai. Batang-batang pohon di sana menjadi penampung air yang alami. Hutan ini juga masih menjadi wadah yang nyaman bagi satwa seperti lutung, musang, bekantan, dan berbagai rupa burung.

Baca juga : Selain Tanjung Puting, Ini Wisata Unggulan Kotawaringin Barat

Kompas.com tiba di destinasi yang berjarak 40 kilometer dari Kota Pangkalan Bun ini dalam sebuah trial trip bersama beberapa wisatawan, dan tour operator, Sabtu (31/3/2018) menjelang petang.

Danau Masoraian, di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, bisa menjadi alternatif wisata alam, selain Tanjung Puting.KOMPAS.com/BUDI BASKORO Danau Masoraian, di Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, bisa menjadi alternatif wisata alam, selain Tanjung Puting.Ketika kami datang, beberapa nelayan sedang memanen ikan di peralatan penangkapan yang mereka tebar di sisi danau.

Trip ini bukan hanya untuk menikmati ketenangan alam danau. Komunitas Karya Masoraian, yang mengemas paket wisata ini, juga mengajak pengunjung melihat dari dekat aktivitas nelayan tradisionalnya.

Kami disuguhi pengalaman menginap semalam di atas lanting, pondok terapung (floating), yang biasanya menjadi tempat rehat dan menginap nelayan tradisional setempat.

Menangkap ikan juga bisa dilakukan malam hari di Danau Masoraian, di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati wisatawan.KOMPAS.com/BUDI BASKORO Menangkap ikan juga bisa dilakukan malam hari di Danau Masoraian, di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati wisatawan.Suguhan makan malam dengan menu sayur asam, ikan bakar hasil tangkapan nelayan, dan sambal mentah dicampur irisan mangga muda, juga kami nikmati di atas lanting.

Baca juga : Tanjung Puting dan Budaya Dayak Dipromosikan di Berlin

"Kami ingin mengemas wisata di danau ini juga untuk menjaga hutan, satwa, ikan dan lingkungan di sekitar sini," tutur Ujang Kusnadi, pemandu trial trip ini.

Menikmati Kesunyian Malam

Lalu, susur danau dengan sampan, tanpa mesin, di malam hari. Beruntung, malam itu cuaca cerah, dan bulan tam pak. Tanpa perlu menyalakan senter, berada di kesunyian malam mengingatkan kembali bahwa ada hal lain di luar hiruk-pikuk kota dan gemerlap cahaya, yang secara alami pantas dinikmati.

Beberapa nelayan, tampak masih beraktivitas dalam senyap. Ada yang sedang memasang perangkap ikan, ada yang masih mengecek dan memanen ikan-ikan tangkapan. "Kalau kita pasang perangkap sore atau malam, besok pagi tinggal mengecek hasilnya," kata Ujang.

Nelayan di Masoraian punya banyak teknik tradisional menangkap ikan. Selain memancing, mereka juga menebar pukat yang dipasang pada tepi-tepi danau. Ada yang disebut teknik merawai, memasang pancing-pancing pada deretan tali. Selain itu ada yang disebut teknik pengilar, berupa jebakan pada keranjang kota berjaring.

Saat malam beranjak naik, suara-suara satwa malam makin banyak terdengar. Nada-nada suara itu terdengar murung. "Ya itulah suara pungguk yang merindukan bulan," kata Ujang.

Situasi itu berbeda de ngan keceriaan kicauan burung-burung, yang esok paginya kami nikmati.

Trekking di Hutan

Hutan menjadi faktor utama pendukung eksistensi Danau Masoraian. Menariknya, kendati tergolong hutan lahan basah, namun, tidak sepanjang masa hutan ini digenangi air, tergantung musim air dalam atau surut.

Dua wisatawan asal Belanda, turut menikmati sensasi sarapan pagi di atas lanting, di Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018).KOMPAS.com/BUDI BASKORO Dua wisatawan asal Belanda, turut menikmati sensasi sarapan pagi di atas lanting, di Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018).Kendati begitu, yang menyangga hutan itu sebagiannya bukan lahan gambut, melainkan tergolong tanah mineral yang berwarna kuning. Dengan kondisi ini, hutan di Masoraian menjadi arena trekking yang menyenangkan. Dan itulah yang kami lakukan pada Minggu (1/4/2018) pagi harinya.

Sebagai lahan basah, vegetasi di dalamnya masih cukup beragam, seperti rengas, rotan, kelara, dan kelait. Dua nama terakhir (kelara dan kelait) cukup unik. Batangnya tak terlalu besar, namun mampu menyimpan air. Saat kehausan di tengah hutan ia jadi solusi.

Pemandu kami memotong dahan kelara dan kelait dengan diameter sekitar 5 centimeter saja. Namun, wow, pada potongan dahan itu menetes air dengan derasnya, yang bisa langsung diminum. "Ya silakan langsung diminum," kata Majeni, pemandu lainnya.

Hal yang menakjubkan lainnya, di sini masih terdapat pohon tua dengan diameter lebih dari 3 meter! Pada dasar pohon itu terdapat rongga seperti goa, yang bisa menjadi tempat berteduh. "Sangat impresif, nice!" cetus Malika Boel, wisatawan asal Belanda, yang datang bersama suaminya, Deep Boel.

Herry Roustaman, salah seorang wisatawan di destinasi Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mencicipi air alami yang terkandung pada dahan pohon kelara, tanaman endemik Pulau Kalimantan, Minggu (1/4/2018).KOMPAS.com/BUDI BASKORO Herry Roustaman, salah seorang wisatawan di destinasi Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mencicipi air alami yang terkandung pada dahan pohon kelara, tanaman endemik Pulau Kalimantan, Minggu (1/4/2018).Bukan sekali dua, Deep dan Malika melontarkan kekagumannya itu dalam trip ini. Bagi mereka wisata petualangan memang bukan hal asing. Mereka adalah wisatawan yang telah bekeliling dunia selama 8 tahun, dengan menggunakan yacht. Air tentu saja menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, danau air tawar di tengah Pulau Kalimantan, dan hutannya, ini merupakan kemewahan bagi mereka. "Ini sangat indah. Kita harus melindungi hutan-hutan di sini," kata Mal ika.

Alternatif Tanjung Puting

Herry Roustaman dan Aidi Syarifudin, dua tour operator yang sudah kenyang pengalaman mengawal wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting pun mengakui, destinasi Masoraian, potensial dijual.

"Suara burung aku dengar lebih banyak dari di Camp Leaky Tanjung Puting," tutur Herry.

Deep Boel, seorang wisatawan asal Belanda, memasuki lorong pada batang pohon rengas berdiameter lebih dari 3 meter di hutan Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018).KOMPAS.com/BUDI BASKORO Deep Boel, seorang wisatawan asal Belanda, memasuki lorong pada batang pohon rengas berdiameter lebih dari 3 meter di hutan Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018)."Hutannya menyenangkan untuk trekking. Kalau air dalam, hutan ini tetap bi sa ditelusuri dengan mengayuh sampan ke dalamnya. Sebelum ke Tanjung Puting, orang bisa pergi ke sini," timpal Aidi.

Destinasi ini memang bisa jadi alternatif bagi wisatawan selain Tanjung Puting, yang dikenal sebagai rumah orangutannya Kalimantan. Apalagi, perjalan ke Masoraian bisa dipadu dengan kunjungan ke situs sejarah Astana Alnursari dan Masjid Kiai Gede, peninggalan Kesultanan Kotawaringin.

Lokasi ini pun cukup mudah diakses. Dari Pangkalan Bun hanya perlu waktu kurang dari 1,5 jam ke Kecamatan Kotawaringin Lama, sebelum wisatawan mulai menikmati perjalanan air sekitar 30 menit ke Masoraian. Bila jalan ke Kotawaringin Lama sudah full aspal, waktu perjalanan darat bisa dipangkas menjadi kurang dari 1 jam.

Malika dan Deep mengusulkan, Masoraian lebih mempertegas identitasnya sebagai wisata adventure yang melebur dengan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

"Karena banyak mass tourism di Asia. Harus ditekankan di sini wisata petual angan," kata Malika.

Batang pohon rengas berdiameter sekitar 3 meter masih ada di hutan Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018). Pohon ini diperkirakan berusia lebih 100 tahunKOMPAS.com/BUDI BASKORO Batang pohon rengas berdiameter sekitar 3 meter masih ada di hutan Danau Masoraian, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Minggu (1/4/2018). Pohon ini diperkirakan berusia lebih 100 tahunHanya saja, ada ancaman yang harus diantisipasi bagi keberlangsungan destinasi Masoraian. Beberapa nelayan mengeluhkan adanya segelintir orang yang menggunakan selambau atau pukat besar yang menutup jalur ikan di muara danau.

Menurut mereka, penggunaan selambau bisa mengancam kelestarian ikan. Mereka berharap pemerintah bisa mengatasi masalah ini. "Ini ada sejak 2015," kata Tatang, salah seorang nelayan di sana.


Terkini Lainnya

Tips Mengolah Ayam Kampung Seperti Ayam Goreng Kesukaan Jokowi

Tips Mengolah Ayam Kampung Seperti Ayam Goreng Kesukaan Jokowi

Food Story 03/04/2018, 14:23 WIB Selama April, Ini Beragam Atraksi Menarik di Banyuwangi Festival

Selama April, Ini Beragam Atraksi Menarik di Banyuwangi Festival

News 03/04/2018, 13:05 WIB Kembali ke Alam, Berwisata ke Danau Masoraian

Kembali ke Alam, Berwisata ke Danau Masoraian

Travel Story 03/04/2018, 11:15 WIB Hotel di Pusat Kota Osaka Ini Cocok untuk Tamu Keluarga

Hotel di Pusat Kota Osaka Ini Cocok untuk Tamu Keluarga

Jepang Terkini 03/04/2018, 09:28 WIB Sensasi Sate Sore di Jasbret

Sensasi Sate Sore di Jasbret

Food Story 03/04/2018, 08:41 WIB Akhir Juni 2018, Bali and Beyond Travel Fair Digelar di Nusa Dua

Akhir Juni 2018, Bali and Beyond Travel Fair Digelar di Nusa Dua

News 03/04/2018, 07:23 WIB Wisatawan Insentif Indonesia ke Korea Terus Tumbuh Pesat

Wisatawan Insentif Indonesia ke Korea Terus Tumbuh Pesat

News 03/04/2018, 06:32 WIB Akomodasi Murah dan Nyaman di Jantung Kota Semarang

Akomodasi Murah dan Nyaman di Jantung Kota Semarang

Hotel Story 02/04/2018, 21:38 WIB

Ingin Lihat Karya Seni Seniman Lokal di Hongkong? Ini Lokasinya!

Travel Story 02/04/2018, 20:20 WIB Tak Hanya Belanja, di Hongkong Wisatawan Bisa Menikmati Karya Seni Kelas Dunia

Tak Hanya Belanja, di Hongkong Wisatawan Bisa Menikmati Karya Seni Kelas Dunia

News 02/04/2018, 20:00 WIB Bisakah Menikmati Sakura Sambil Naik Gunung?

Bisakah Menikmati Sakura Sambil Naik Gunung?

Jepang Terkini 02/04/2018, 19:08 WIB Lomba Lari 'Terganas' 320    Km Tambora Challenge Siap Digelar

Lomba Lari "Terganas" 320 Km Tambora Challenge Siap Digelar

News 02/04/2018, 15:28 WIB Virgin Island, Harta Karun Thailand

Virgin Island, Harta Karun Thailand

Travel Story 02/04/2018, 14:36 WIB 10 Ide Wisata Seru Bersama Keluarga di Dubai

10 Ide Wisata Seru Bersama Keluarga di Dubai

Travel Story 02/04/2018, 14:35 WIB Taman Garuda Ini Menjadi Tujuan Utama Warga Kendal pada Minggu Pagi

Taman Garuda Ini Menjadi Tujuan Utama Warga Kendal pada Minggu Pagi

News 02/04/2018, 10:41 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Kalteng