www.AlvinAdam.com

BErita 24 Kalimantan Tengah

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Adaro Energy Target Jadi Pemasok Batubara Kokas untuk Industri ...

Posted by On 18.13

Adaro Energy Target Jadi Pemasok Batubara Kokas untuk Industri ...

Jajaran direksi PT Adaro Energy, Tbk melakukan konferensi pers selepas acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Senin (23/4/2018).KOMPAS.com/Mutia Fauzia Jajaran direksi PT Adaro Energy, Tbk melakukan konferensi pers selepas acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Senin (23/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Perusahaan batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melakukan diversifikasi usaha setelah mengakuisisi dua perusahaan tambang batubara beberapa waktu lalu.

Diversifikasi usaha ini yakni selain fokus ke batubara ketel uap atau thermal coal, juga ke batubara kokas atau coking coal.

Beberapa waktu lalu , Adaro Energy mengakuisisi perusahaan tambang batu bara kokas Rio Tinto dan perusahaan tambang batu bara asal Australia, BHP Billiton.

Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan langkah ini merupakan bentuk diversifikasi Adaro Energy dari perusahaan batu bara lain.

"Dulu hanya thermal coal yang ada dan biasa digunakan untuk pembangkit listrik, semen, dan sebagainya. Intinya kalau thermal coal itu kalornya yang diambil untuk energi," jelasnya selepas acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, Senin (23/4/2018).

Baca juga : Harga Batubara DMO 70 Dollar AS Per Ton, Adaro Revisi ke Bawah Target EBITDA

Sementara untuk batubara kokas, lanjutnya, digunakan untuk industri baja. Sehingga dengan pengembangan ini, Adaro Energy dapat menjadi pemasok batu bara kokas untuk industri-industri baja di Indonesia.

Pengusaha yang biasa disebut Boy Thohir ini mengatakan alasan lain untuk mengembangkan bisnis batu bara kokas. Yakni, karena di wila yah Kalimantan Tengah ditemukan cadangan batu bara kokas kualitas dunia.

"Sekarang juga kita melihat, seperti Krakatau Steel itu masih impor batu bara kokas dari luar negeri. Ke depannya kenapa tidak dari batubara kita saja yang dari Kalimantan Tengah," tambahnya.

Baca juga : Adaro Energy Bagikan Dividen 250 Juta Dollar AS

Sebelumnya, Head of Corporate Comunication Adaro Energy Febriati Nadira mengatakan, tahun ini, khusus untuk produksi batubara kokas ditargetkan sekitar 1 juta ton. Belum ada penambahan produksi dibandingkan tahun lalu, dan juga untuk 2019 mendatang.

“Belum ada penambahan, 2018 saja kan belum habis (waktunya). Jadi khusus produksi kokas kami sekitar 1 juta ton,” katanya, seperti dikutip dari KONTAN, Kamis (29/3/2018).

Nadira mengatakan, batubara kokas adalah material penting untuk pembuatan baja. Makanya, batubara kokas ini akan diekspor ke Eropa dan Jepang. Bahkan, ada juga untuk kebutuhan dalam negeri.

Direktur Keuangan Adaro Energy David Tendian mengatakan, untuk pengembangan batubara kokas, perseroan menyiapkan 40 persen dari total belanja modal perseroan atau senilai 100 juta dollar AS-150 juta dollar AS.

Dana yang berasal dari kas internal ini akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur aset tersebut dan eksplorasi.

Baca juga : Anak Usaha Adaro Energy Melantai di Bursa Saham Mauritius

Indonesia-Australia

Boy Thohir juga menjelaskan, akuisisi terhadap perusahaan tambang Australia dilakukan untuk memunculkan hubungan resiprokal antara Australia dan Indonesia.

"Visi kita itu, suatu saat kita akan belajar dari tambang Australia yang memang sudah lebih advanced dari kita dari sisi operasional. Sebaliknya, apapun yang bisa kita kontribusikan dari pengalaman CSR kita bisa kita kontribusikan di Australia," tambahnya.

Sekadar informasi, pada Maret 2018 lalu Adaro Energy dan EMR Capital, perusahaan pengelola pri vate equity di bidang pertambangan, meneken perjanjian mengikat untuk mengakuisisi 80 persen saham Rio Tinto di tambang batubara kokas kestrel (Kestrel).

Adapun nilai akuisisi saham Rio Tinto pada tambang batubara kokas Kestrel senilai 2,25 miliar dollar AS atau setara Rp 30,91 triliun (asumsi kurs Rp 13.741 per dolar AS).

Baca juga : Cerita Adaro soal Kian Pentingnya Batu Bara untuk Pembangkit Listrik

Nantinya, Adaro Energy dan EMR akan bersama-sama mengelola dan mengoperasikan Kestrel dengan memanfaatkan pengalaman EMR dalam akuisisi dan menjalankan operasional penambangan

Sementara pada 2016 lalu, Adaro Energy juga telah mengakuisisi 75 persen saham IndoMet Coal Project (IMC) dari BHP Billiton dengan nilai 120 juta dollar AS.

IMC terdiri dari tujuh CCOW yang terletak di Kalimantan Tengah dan Timur dengan total sumber daya sebesar 1,27 miliar ton. Setelah diakuisisi, aset itu dinamai Adaro MetCoal Companies.

Kompas TV Pemerintah menetapkan harga beli batubara untuk kebutuhan PLN sebesar 70 dolar Amerika Serikat per ton.

Berita Terkait

Adaro Energy Bagikan Dividen 250 Juta Dollar AS

Harga Batubara DMO 70 Dollar AS Per Ton, Adaro Revisi ke Bawah Target EBITDA

Anak Usaha Adaro Energy Melantai di Bursa Saham Mauritius

Kuartal I Laba Bersih Adaro Energy Tumbuh 63 Persen

Cerita Adaro soal Kian Pentingnya Batu Bara untuk Pembangkit Listrik

Terkini Lainnya

Apindo: Revolusi Industri 4.0 Bisa Mengancam Tenaga Kerja Lokal

Apindo: Revolusi Industri 4.0 Bisa Mengancam Tenaga Kerja Lokal

Bisnis 24/04/2018, 08:00 WIB Berita Populer: Rupiah Menuju 14.000 per Dollar AS, Menaker Paparkan Data TKA

Berita Populer: Rupiah Menuju 14.000 per Dollar AS, Menaker Paparkan Data TKA

Makro 24/04/2018, 07:00 WIB Adaro Energy Target Jadi Pemasok Batubara Kokas untuk Industri Baja

Adaro Energy Target Jadi Pemasok Batubara Kokas untuk Industri Baja

Makro 24/04/2018, 06:00 WIB Rupiah Hampir 14.000 per Dollar AS, Ini Kata Apindo

Rupiah Hampir 14.000 per Dollar AS, Ini Kata Apindo

Bisnis 24/04/2018, 05:00 WIB Perpres 20/2018 tentang TKA Bisa Dorong Peningkatan Investasi 20 Persen

Perpres 20/2018 tentang TKA Bisa Dorong Peningkatan Investasi 20 Persen

Makro 23/04/2018, 21:17 WIB Cuti Bersama Lebaran Diperpanjang, Apindo Meradang

Cuti Bersama Lebaran Diperpanjang, Apindo Meradang

Bisnis 23/04/2018, 21:02 WIB Menaker Jelaskan Menga   pa Indonesia Masih Butuh Tenaga Kerja Asing

Menaker Jelaskan Mengapa Indonesia Masih Butuh Tenaga Kerja Asing

Makro 23/04/2018, 20:41 WIB Bank DKI Salurkan Fasilitas Kredit ke 70 UMKM Binaan OKE OCE

Bank DKI Salurkan Fasilitas Kredit ke 70 UMKM Binaan OKE OCE

Keuangan 23/04/2018, 20:36 WIB Perpres TKA Hanya Permudah Prosedur Izin, Syarat Tidak Dikurangi

Perpres TKA Hanya Permudah Prosedur Izin, Syarat Tidak Dikurangi

Makro 23/04/2018, 20:26 WIB Antisipasi Fluktuasi Kurs,    Ini yang Dilakukan BNI

Antisipasi Fluktuasi Kurs, Ini yang Dilakukan BNI

Keuangan 23/04/2018, 20:21 WIB Menaker: TKI yang Serbu China, Bukan TKA China yang Serbu Indonesia

Menaker: TKI yang Serbu China, Bukan TKA China yang Serbu Indonesia

Makro 23/04/2018, 20:06 WIB Ada Hubungan Ini di Balik 'Rebranding'

Ada Hubungan Ini di Balik "Rebranding"

Rilis 23/04/2018, 19:54 WIB BNI Belum Tentukan Bank untuk Diakuisisi

BNI Belum Tentukan Bank untuk D iakuisisi

Keuangan 23/04/2018, 19:40 WIB Tiga Segmen Ini Dongkrak Penjualan Erajaya

Tiga Segmen Ini Dongkrak Penjualan Erajaya

Rilis 23/04/2018, 19:14 WIB Triwulan I 2018, Kredit Bank BJB Tumbuh 13,2 Persen

Triwulan I 2018, Kredit Bank BJB Tumbuh 13,2 Persen

Rilis 23/04/2018, 18:58 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Kalteng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »