www.AlvinAdam.com

BErita 24 Kalimantan Tengah

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Borneo Bersiap Menjadi Sentra Tanaman Pangan di Indonesia

Posted by On 03.06

Borneo Bersiap Menjadi Sentra Tanaman Pangan di Indonesia

Borneo Bersiap Menjadi Sentra Tanaman Pangan di Indonesia Redaktur: Redjo Prahananda

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Pulau Kalimantan didominasi lapisan tanah rawa (lebak dan pasang surut) sudah dikenal sebagai sentra pertanian tanaman pangan. Perlahan tapi pasti, upaya optimalisasi lahan rawa dapat mengentaskan masyarakat dari kemiskinan seperti yang terjadi di Barito Kuala.

Kabupaten Barito Kuala merupakan daerah penghasil beras terbesar di Kalimantan Selatan, dengan kontribusi mencapai sekitar 16,23 persen. Namun, area persawahan Barito Kuala sebagian besar berada di lahan rawa lebak, membuat produktivitas padi lebih rendah karena indeks pertanaman belum mencapai peringkat 3.

Data BPS tahun 2015 menyebutkan, dengan luas wilayah 311 ribu ha, Barito Kuala didominasi oleh lahan pasang surut (seluas 300 ribu ha) dan lahan rawa lebak (seluas 11 ribu ha).

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala, Zulkifli Yadi Noor menuturkan, kabupatennya telah ditetapkan sebagai penyokong kedaulatan pangan dan akan terus meningkatkan luas tanam termasuk IP.

Hampir semua kecamatan di Barito Kuala merupakan sentra produksi beras. Dari keseluruhan kecamatan di Barito Kuala, Jejangkit merupakan salah satu kecamatan yang memiliki daerah rawa men capai luasan 3 ribu ha dan rata-rata produksi gabahnya hanya 3,3 ton/ha.

"Rendahnya produktivitas ini karena saat musim hujan tergenang, saat musim kemarau lahan benar-benar kering. Kesuburan tanah dan lahan yang ekstrim seperti itu menjadikan petani hanya bisa bercocok tanam satu kali dalam setahun," jelas Zulkifli.

Namun permasalahan tersebut bisa berkurang dan menjadikan masyarakat tani setempat terbebas dari kemiskinan karena Kabupaten Barito Kuala dengan Kecamatan Jejangkit terpilih menjadi daerah percontohan nasional Optimalisasi Lahan Suboptimal.

Diakui Zulkifli, permasalahan pertanian di Jejangkit ada pada tata kelola air. "Program optimalisasi lahan sub optimal ini merupakan sistem pertanian melalui pengaturan tata kelola air dengan pembangunan saluran irigasi, pintu air, pompa air dan lain-lain," tutur dia.

Melalui upaya optimalisasi tersebut maka waktu tanam tidak lagi bergantung pada musim. Tak hanya itu, petani mendapa tkan bantuan pestisida dan beragam alsintan. Dalam pengerjaannya, petani akan dikawal pemerintah mulai dari pengelolaan tanam, menanam dan pasca panen yang terjamin.

Mekanisasi Padat Karya Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Pending Dadih Permana mengungkapkan, Kementerian Pertanian akan menggulirkan sebanyak 215 eskavator ke seluruh Indonesia untuk program optimalisasi lahan sub optimal ini.

Bahkan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menyebutkan akan memberikan 40 unit eskavator untuk optimalisasi lahan di Kalsel dan 7 unit dengan Jejangkit.

"Pengadaan eskavator ini untuk mempercepat sistem pengairan, petakan sawah, jalan pertanian, perbaikan saluran irigasi, pembuatan embung, hingga penataan struktur lahan pertanian," tutur Dadih.

Pembangunan dilakukan secara padat karya. "Di Jejangkit akan ada lahan dioptimalisasi seluas 750 ha. Namun dilakukan secara padat karya dengan menyerap tenaga kerja di desa tersebut, dan pada sistem mekanisasi modern," ujar Dadih.

Kementerian Pertanian sendiri menyiapkan alokasi dana untuk optimalisasi lahan rawa yaitu Rp 3 juta per ha (rawa lebak) dan Rp 4 juta per ha (pasang surut). Kementan bakal mendistribusikan mesin pompa dengan kemampuan mengairi 200 ha berikut pupuk dan benih.

รข€œSedangkan kebutuhan lain dibebankan pada Pemprov Kalsel dan Pemkab Barito Kuala seperti pasokan solar untuk BBM pompa," jelasnya.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman sempat menyebutkan, biaya optimalisasi rawa menjadi lahan produktif, jauh lebih murah daripada harus membangun sawah dengan biaya cetak bisa mencapai Rp 16 juta per ha.

"Di Kalsel sendiri direncanakan optimalisasi ini seluas 67 ribu ha. Perhitungan ini dilakukan dengan tidak memasukkan lahan gambut yang memang tidak bisa ditanami," papar Dadih.

Dadih memasang target, lahan rawa tersebut bisa produktif paling lambat 10 tahun sedangkan potensi lahan sub optimal te rsebut ada sekitar 1 juta ha tersebar di Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. (rej)

tan


TOPIK BERITA TERKAIT: #sentra-tanaman-pangan&nbsp
Sumber: Google News | Berita 24 Kalteng

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »